kali ini pengen ngebahas tentang cita-cita.
"Seumur hidup aku berdo'a kepada-Nya, Dia takpernah mengecewakan ku"
rencana hidup yang telah kususun sejak lama.
aku ingin menjadi dokter. Akuingin punya Rumah Sakit berstandar internasional khusus orang tidak mampu. Terbayangkan di otak ku fasilitas yang dimiliknya.
Terbayangkan pula diotak ku, berjalan secepat kilat menggunakan jas putih, terburu-buru menuju kamar pasienku.
cita-cita lain nya adalah aku ingin punya sekolah yang sistem belajarnya berbeda dengan sekolah pada umumnya. Lebih cenderung ke arah pengembangan diri anak. Tempat dimana mereka bebas bereksperimen, hari-haridimana anak-anak menjawab pertanyaan mereka yang aneh-aneh dengan bantuan guru-guru berdedikasi tinggi.
Cita-cita lainnya, aku ingin memiliki pondok pesantren, dimana aku dan suamiku yang memimpin nya. Eaaa. Jika sepertiitu, jadilah aku anak asrama, SMA, kuliah, dan berkeluarga di asrama.no no no.
Banyak sekali cita-cita yang kususun dan langkah-langkah yang kupersiapkan untuk menggapainya.
sewaktu aku SMA, aku bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah Negeri dengan fasilitas Boarding School. Inilah langkah yang sudah Tuhan persiapkan untukku.
Kelas 3 SMA, aku sekamar dengan para bidadari bidadari cantiks, yang rajin belajar dan soleha. Alhamdulillah ya.
Kami sekamar berempat. Namun lebih sering kami tinggal bertiga di kamar.
Kamar yang tak cukup luas ini, letaknya strategis. dekat dapur, membuat kami sering membawa makanan ke kamar. Jadilah kamar kami,seetak kecil ini, tempat makan, solat,belajar, tidur, di lantai yang tak cukup luass ini.
Kamar yang tak cukup luas ini, letaknya strategis. dekat dapur, membuat kami sering membawa makanan ke kamar. Jadilah kamar kami,seetak kecil ini, tempat makan, solat,belajar, tidur, di lantai yang tak cukup luass ini.
Alhasil, lantai kami sering berminyak-minyak gak jelas wkwk.
namun, yang paling aku suka adalah hari minggu.
Bersantai di kamar, dimana seluruh siswa kelas 1 dan 2 pembersihan pagi, kami kelas 3 adalah raja asrama haha. Bangun siang, gorden kamar ditutup, pintu dikunci, dan membangkai di kamar. Keluar saat jam makan, lalu kembali lagi ke kamar dan membangkai lagi.
Sering kali setiap hari minggu aku ke dapur dan mengorek-ngorek seember kulit telur bekas mak dapur masak.
Suka sekali aku mengambil sisa-sisa putih telurnya dan ku bawa ke kamar. Tak banyak, hanya sedikit sekali.
Dan..it's time to maskeran.
Bersama anak kamar, aku bermasker ria.
Masker murah meriah alias gratis.
Begitu banyak bilangan hari yang tlah kami lewati bersama. Belajar bersama, gila-gilaan bersama.
Hingga mendekati UN, kamar kami seperti kuburan. sepi.
penghuni nya sudah berpindah tempat tinggal ke tempat les.
sejak pulang sekolah, kami langsung ke tempat les masing-masing.
Hari-hari kulalui dengan penuh semangat.
Aku baru memulai masa depanku disini. di BTA 70 Jkt cab.Palembang *endorse
Aku tak hanya mengikuti kelas wajib, kelas lain pun sering ku masuki.
Aku bercita-cita ingin mendapatkan beasiswa monbukagakusho, beasiswa dari jepang.
Sangat ku niatkan, untuk sekolah kedokteran disana.
Hali tu membuatku mempunyai energi lebih untuk belajar.
Hingga aku bertemu seseorang, yang baru ku kenal karena aku salah masuk kelas.
Aku tak menyangka,hingga saat ini setelah aku kuliah ditempat yang jauh, aku masih berteman dekat dengannya. teman ya. temaan.
Aku punya cs belajar di tempat bimbel ini. Awalnya kami tidak saling mengenal. Tapi, setiap memasuki kelas yang bukan kelas kami, kami selalu bertemu.
Mereka dari Salah satu SMA Negeri di palembang.
Kami bekerjasama untuk mendapatkan jam belajar semaksimal mungkin disini.
Pesan konsul disini tidak bisa setiap hari, jadi kami membagi tugas untuk meminta jadwal konsul. Alhasil, tetap kami tidak berhail mendapatkan kelas setiap hari.
Tapi, kami tidak menyerah. Setiap pulang sekolah kami datang kesini, meskipun tak ada kelaskonsul. Tapi kami berhasil menodong guru untuk mengajari kami barang 10 menit saja.
Akhirnya, belajar pun pindah ke ruang kelas, dan kami dapat kelas lagi!
Aku melalui hari-hariku dengan sangat bahagia penuh pesona haha.
Pada suatu hari, ayahku yang jauh disana, menelepon.
menanyakan kabarku ingin masuk mana. dengan jawaban yakin aku mengatakan "kedokteran, pa"
setiap kali ia menelepon, selain menanyakan kabarku, pastilah ia menanyakan itu. dan jawabku selalusama, kedokteran.
Perlahan-lahan ayahku mengatakan, "kalau bisa daftar sekoah ikatan dinas. Supaya tak menyulitkan orangtua. Kalo mau masuk kedokteran, uangnya darimana. Mungkin kalo sekarang papa punya uang. Tapi kita gak tau apa yang akan terjadi nanti", ungkapnya.
Aku tetap diam. Dalam hatiku menjawab. Allah pasti punya jalan.
aku belajar dengan asyik, mengamati apa yang yang ditulis dan dikatakan oleh guru bimbel muda dan cantik ini.
Lagi-lagi papa menelpon.
Ada kiyai (baca=kakak) yang menunggu di depan tempat les. Dia mau jemput aku buat latihan lari dan fisik lainnya.
Mendengar itu aku terkejut. Kebetulan kelas tlah berakhir, aku melangkah ke luar, menengok-nengok benarkah ada mobil parkir di depan?
semakin dekat, semakin dekat. Benar. Aku melihat seorang wanita yang sudah ku kenal menurunkan sedikit kaca mobilnya.
Cepat-cepat aku melangkah mendekati mereka.
"icha...apa kabar?"
"Baek, kaka" (baca=ayuk)
ku sujud tangan mereka, kemudian mobil yang ku tumpangi ini melaju ke arah yang aku tak tahu.
Rupanya, kami sedang menuju ke tempat seorang brimob yang sudah biasa melatih anak-anak yang ingin masuk polisi, tentara, dsb.
Aku melihat ke kanan, seperti lembah namun tak begitu dalam. Terlihat mengerikan.
"icha...ini dia. Kemarin mouly lari disini", tangan ibunya yang ku panggil kaka itu menunjuk ke arah lembah yang menrutku mengerikan tadi.
APAAAA???
dalam hati aku berteriak.
Astaga. Hari apa ini?!!!
Sampai.
Aku melihat beberapa orang yang sedang pemanasan.
Aku turun dengan kiyay ku. Sedikit bercakap-cakap ia dengan salah seorang bapak-bapak yang sudah sedikit tua namun masih kekar.
Namanya pak iskandar.
Beliau lah yang biasa melatih orang-orang yang mau mendaftar polisi dan tentara.
AKu menatap sekelilingku dalam-dalam.
"Ya Allah...mengapa aku harus tiba dihari ini", gumamku dalam hati.
Mataku menyipit, menghalau sinar matahari yang menyerangku. Keningku berkerut.
Hari-hari abruku akankumulai besok. Lalu kami kembali ke rumah.
Pagi-pagi sekali aku sudah di instruksikan oleh kiyay ku untuk ke kolam renag Lumban Tirta, yang lokasinya tak jauh dari rumah tempat ku tinggal.
Dengan berpakaian training dan sepatu sport yang baru ku beli semalam di PS mall, aku duduk di tangga depan pintu kaca kolam renang ini. Kolam renangnya belum buka!
Aku tak sendiri, lumayan banyak orang-orang yang menunggu sepertiku.
Jam telah menunjukan pukul 8 pagi. Tapi aku tak melihatku mobil kiyay ku parkir disini.
Setelah sekitar 10 menit aku menunggu. aku melihat mobil yang tak asing lagi bagiku, mengarah kesini.
Tak lama kemudian, seorang gadis seumuranku turun. Mouly. Ya...dia sepupuku. Dia ingin mendaftar bintara. Sedangkan aku, diarahkan papaku untuk mendaftar IPDN.
Aku pun berjalan mengikuti langkah kiyay ku. Ia mengantarku ke sebuah meja di balik kacapenjualan karcis, ternyata itu adalah tempat mendaftar les privat.
Wah. Privat renang. Aku membayangkan dengan indah, aku akan bisa renang. Hhmm....bisa saja nanti kalo ada yang tenggelam, aku akan menolong.
Tarifnya 500rb untuk 10 pertemuan. Jadi, 1 pertemuan bayarnya 50rb. Wow!
Aku melangkah masuk. Kudapati beberapa orang yang berenang di pinggir-pinggir. Hari-hariku mulai lagi. Oh!
Akupun berganti pakaian. Kulihat mouly sudah nyebur aja, bersama seorang wanita, ku perkirakan usianya sekitar 30an.
Selanjutnya, aku pun mendekat ke mereka. Tapi aku masih di atas. Belum berani rasanya kaki ku menyentuh air. Kulihat kolam yang luas ini. Ya Allah........ ntah. Antara terpukau dan miris aku mengamati sekelilingku.
"ayo turun, mbak tika nya belum datang", sebuah suara lembut memecahkan keheninganku.
ku tatap mouly, seolah dia tahu pertanyaan ku. "turun lah, nggak dalem kok", ujarnya.
Mendengar hal itu, aku perlahan-lahan turun. Tuhan....nanti aku tenggelam, gumamku dalam hati.
tanganku masih berpegang erat pada tangga besi ini, kaki ku meraba-raba air di bawah, kuputuskan untuk turun, dan ternyata.....tidak dalam! aku sampai! kepalaku masih di atas air. wow!
Kemudian tante itu yang ternyata bernama tante ida, ikut membantuku berlatih renang yang baru kali pertama. Pertama-tama sebelum renang kita di anjurkan untuk melatih pernapasan.
Jadi kita menarik napas melalui mulut kemudian masuk ke dalam air dan keluarkan napas dari hidung. Tangan kita berpegangan dengan pinggiran kolam. lakukan perlahan-lahan, sampai kita sudah merasa bahwa paru-paru kita siap.
Sewaktu seluruh tubuhku menyelam di dalam air, aku merasakan kedamaian. kedamaian air yang tenang. Kupikirkan lagi cita-citaku untuk menjadi dokter. Aku ingat kata-kata papa kemarin yang memintaku untuk berhenti les dan fokus pada latihan fisik. Rasanya hatiku hancur berkeping-keping.
Aku mengangkat tubuhku ke atas, hah! Kulihat orang-orang di atas. Sepertinya aku terlalu banyak memperhatikan sekeliling.
Kemudian mbak tika datang, dia instruktur renang ku. kuperkirakan umurnya masih muda, sekitar 20an tahun. Dia menyambutku dengan lembut.
Dan kami latihan bersama, berempat. Tapi kulihat mouly sudah lancar bolak-balik dari pinggir ke pinggir. Apadaya...aku masih pertemuan pertama.
Pertama kali aku di ajarkan luncuran. Tubuh mengapung di air kemudian kedua kaki mendorong tubuh agar melaju membelah air, dengan kedua tangan disatukan lurus kedepan, bak moncong perahu membelah sungai.
Kurasakan damainya air. Setelah kurasa tubuhku tak melaju lagi, aku pun mengangkat badan. Berbalik badan dan menengok ke arah mbak tika.
Ya..begitu. Tapi lebih santai lagi, lebih relaks.
Ini yang membuatku senang, relaks. menghapus semua masalah dalam otak ku adalah hal yang harus ku lakukan. Jika tidak, tubuhku akan tenggelam, bagaikan membawa masalah yang membuat masa jenis tubuhku lebih besar daripada air.
Seusai renang, akupun berbilas dan berganti pakaian training kembali. Aku pun berpmitan dengan kiyay dan istrinya, langsung menuju tempat les.
Dalam perjalanan aku memikirkan kembali kata-kata papaku. Dalam hatiku tetap terpatri, biarkan aku melakukan apa yang papaku inginkan. Tapi aku akan tetap pada pendirianku, menjadi dokter. Aku harus tetap les meskipun dengan waktu yang terbatas. aku harus pintar-pintar mencuri waktu. jam pertama habis pukul setengah 12 dan mulai lagi jam kedua sampai jam 1 siang. Otomatis aku hanya dapat kelas jam kedua.
Aku mengetuk pintu kelas, lalu masuk. aku mengambil duduk paling depan. Pakaianku memang terlihat aneh. Disaat orang-orang menggunakan jins dan kemeja, aku menggunakan training dan sepatu sport jilbab langsungan, muka tanpa bedak. Beda sekali dengan cewek sebelahku ini, yang cantik, modis, wangi, dan rapi.
Sampai.
Aku melihat beberapa orang yang sedang pemanasan.
Aku turun dengan kiyay ku. Sedikit bercakap-cakap ia dengan salah seorang bapak-bapak yang sudah sedikit tua namun masih kekar.
Namanya pak iskandar.
Beliau lah yang biasa melatih orang-orang yang mau mendaftar polisi dan tentara.
AKu menatap sekelilingku dalam-dalam.
"Ya Allah...mengapa aku harus tiba dihari ini", gumamku dalam hati.
Mataku menyipit, menghalau sinar matahari yang menyerangku. Keningku berkerut.
Hari-hari abruku akankumulai besok. Lalu kami kembali ke rumah.
Pagi-pagi sekali aku sudah di instruksikan oleh kiyay ku untuk ke kolam renag Lumban Tirta, yang lokasinya tak jauh dari rumah tempat ku tinggal.
Dengan berpakaian training dan sepatu sport yang baru ku beli semalam di PS mall, aku duduk di tangga depan pintu kaca kolam renang ini. Kolam renangnya belum buka!
Aku tak sendiri, lumayan banyak orang-orang yang menunggu sepertiku.
Jam telah menunjukan pukul 8 pagi. Tapi aku tak melihatku mobil kiyay ku parkir disini.
Setelah sekitar 10 menit aku menunggu. aku melihat mobil yang tak asing lagi bagiku, mengarah kesini.
Tak lama kemudian, seorang gadis seumuranku turun. Mouly. Ya...dia sepupuku. Dia ingin mendaftar bintara. Sedangkan aku, diarahkan papaku untuk mendaftar IPDN.
Aku pun berjalan mengikuti langkah kiyay ku. Ia mengantarku ke sebuah meja di balik kacapenjualan karcis, ternyata itu adalah tempat mendaftar les privat.
Wah. Privat renang. Aku membayangkan dengan indah, aku akan bisa renang. Hhmm....bisa saja nanti kalo ada yang tenggelam, aku akan menolong.
Tarifnya 500rb untuk 10 pertemuan. Jadi, 1 pertemuan bayarnya 50rb. Wow!
Aku melangkah masuk. Kudapati beberapa orang yang berenang di pinggir-pinggir. Hari-hariku mulai lagi. Oh!
Akupun berganti pakaian. Kulihat mouly sudah nyebur aja, bersama seorang wanita, ku perkirakan usianya sekitar 30an.
Selanjutnya, aku pun mendekat ke mereka. Tapi aku masih di atas. Belum berani rasanya kaki ku menyentuh air. Kulihat kolam yang luas ini. Ya Allah........ ntah. Antara terpukau dan miris aku mengamati sekelilingku.
"ayo turun, mbak tika nya belum datang", sebuah suara lembut memecahkan keheninganku.
ku tatap mouly, seolah dia tahu pertanyaan ku. "turun lah, nggak dalem kok", ujarnya.
Mendengar hal itu, aku perlahan-lahan turun. Tuhan....nanti aku tenggelam, gumamku dalam hati.
tanganku masih berpegang erat pada tangga besi ini, kaki ku meraba-raba air di bawah, kuputuskan untuk turun, dan ternyata.....tidak dalam! aku sampai! kepalaku masih di atas air. wow!
Kemudian tante itu yang ternyata bernama tante ida, ikut membantuku berlatih renang yang baru kali pertama. Pertama-tama sebelum renang kita di anjurkan untuk melatih pernapasan.
Jadi kita menarik napas melalui mulut kemudian masuk ke dalam air dan keluarkan napas dari hidung. Tangan kita berpegangan dengan pinggiran kolam. lakukan perlahan-lahan, sampai kita sudah merasa bahwa paru-paru kita siap.
Sewaktu seluruh tubuhku menyelam di dalam air, aku merasakan kedamaian. kedamaian air yang tenang. Kupikirkan lagi cita-citaku untuk menjadi dokter. Aku ingat kata-kata papa kemarin yang memintaku untuk berhenti les dan fokus pada latihan fisik. Rasanya hatiku hancur berkeping-keping.
Aku mengangkat tubuhku ke atas, hah! Kulihat orang-orang di atas. Sepertinya aku terlalu banyak memperhatikan sekeliling.
Kemudian mbak tika datang, dia instruktur renang ku. kuperkirakan umurnya masih muda, sekitar 20an tahun. Dia menyambutku dengan lembut.
Dan kami latihan bersama, berempat. Tapi kulihat mouly sudah lancar bolak-balik dari pinggir ke pinggir. Apadaya...aku masih pertemuan pertama.
Pertama kali aku di ajarkan luncuran. Tubuh mengapung di air kemudian kedua kaki mendorong tubuh agar melaju membelah air, dengan kedua tangan disatukan lurus kedepan, bak moncong perahu membelah sungai.
Kurasakan damainya air. Setelah kurasa tubuhku tak melaju lagi, aku pun mengangkat badan. Berbalik badan dan menengok ke arah mbak tika.
Ya..begitu. Tapi lebih santai lagi, lebih relaks.
Ini yang membuatku senang, relaks. menghapus semua masalah dalam otak ku adalah hal yang harus ku lakukan. Jika tidak, tubuhku akan tenggelam, bagaikan membawa masalah yang membuat masa jenis tubuhku lebih besar daripada air.
Seusai renang, akupun berbilas dan berganti pakaian training kembali. Aku pun berpmitan dengan kiyay dan istrinya, langsung menuju tempat les.
Dalam perjalanan aku memikirkan kembali kata-kata papaku. Dalam hatiku tetap terpatri, biarkan aku melakukan apa yang papaku inginkan. Tapi aku akan tetap pada pendirianku, menjadi dokter. Aku harus tetap les meskipun dengan waktu yang terbatas. aku harus pintar-pintar mencuri waktu. jam pertama habis pukul setengah 12 dan mulai lagi jam kedua sampai jam 1 siang. Otomatis aku hanya dapat kelas jam kedua.
Aku mengetuk pintu kelas, lalu masuk. aku mengambil duduk paling depan. Pakaianku memang terlihat aneh. Disaat orang-orang menggunakan jins dan kemeja, aku menggunakan training dan sepatu sport jilbab langsungan, muka tanpa bedak. Beda sekali dengan cewek sebelahku ini, yang cantik, modis, wangi, dan rapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar